Rabu, 13 Mei 2015

Antropologi budaya

ANTROPOLOGI BUDAYA

Antropologi Budaya

A. Pendahuluan 
Antropologi kebudayaan atau lebih sering kita dengar sebagai antropologi budaya (terjemahan dari Cultural Anthropogy), merupakan salah satu cabang dari studi antropologi yang mengambil kebudayaan sebagai objek studinya. Ilmu Antropologi, tidak seperti beberapa ilmu lain (misalnya, geografi) mempunyai kejelasan posisi dalam dikotomi bidang-bidang ilmu pengetahuan, apakah termasuk bidang eksakta atau noneksata, ilmu pengetahuan alam atau sosial. Ilmu Antropologi adalah salah satu ilmu yang termasuk ke dalam kategori ilmu sosial. 
Secara garis besar ilmu antroplogi dapat dipilah menjadi dua bahagian, yaitu antropologi biologi dan antropologi budaya. Antropologi biologi merupakan kelompok studi antropologi yang mempelajari manusia beserta proses biologis yang menyertainya sehingga terjadinya aneka warna makhluk manusia dipandang dari sudut ciri-ciri tubuhnya. Ilmu ini meliputi ilmu paleoantropologi dan antropologi fisik. Ilmu pengetahuan penunjang dalam antropologi biologi meliputi kedokteran, arkeologi, biologi, dan sebagainya. Antropologi budaya merupakan studi antropologi yang bidang studinya mengambil kebudayaan sebagai objeknya. Aspek-aspeknya antara lain meliputi masalah sejarah asal, perkembangan, dan penyebaran aneka warna bahasa yang diucapkan manusia di seluruh dunia; masalah perkembangan, penyebaran dan terjadinya aneka warna kebudayaan di seluruh dunia; dan masalah azas-azas dari kebudayaan manusia dalam kehidupan masyarakat dari semua suku bangsa yang tersebar di seluruh muka bumi (Koentjaraningrat, 1990: 25). Sesuai dengan aspek-aspek yang dipelajari terdapat cabang antropologi budaya, yaitu prehistori, etnolinguistik, etnologi (Descriptive integration/etnology dan generalizing aproach/social anthropology), etnopsikologi, antropologi spesialisasi (antropologi ekonomi, antropologi politik, antropologi kependudukan, antropologi kesehatan, antropologi kesehatan jiwa, antropologi pendidikan, antropologi perkotaan dan antropologi perdesaan), dan antropologi terapan. Selain itu ada pula dua aspek lain yang menjadi kajian ilmu antropologi, selain kajian antroplogi budaya, yaitu masalah sejarah asal dan perkembangan manusia (atau evolusinya) secara biologi (termasuk dalam studi paleoantropologi); dan masalah sejarah terjadinya aneka warna makhluk manusia dipandang dari sudut ciri-ciri tubuhnya (antropologi fisik). Kedua aspek ini dicakup dalam studi Antropologi Fisik dalam arti luas.
Saat ini, ilmu antropologi budaya mempunyai peranan penting dalam pembangunan bangsa di Indonesia dan telah cukup mendapat perhatian oleh pemerintah. Hal ini tampak dengan adanya pengembangan ilmu ini di beberapa universitas negeri, seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, Universitas Sumatra Utara, Universitas Andalas, Universitas Udayana, Universitas Hasanuddin, Universitas Cendrawasih.

B. Konsep Antropologi 
B.1. Batasan Antropologi
Batasan, yang lebih sering disebut dengan definisi dapat dipandang sebagai kristal dari lingkup bidang studi yang menyangkut isi yang dipelajari dari bidang ilmu pengetahuan bersangkutan (Suhardjo, 1998: 2). Sebelum sampai pada batasan kiranya perlu dipahami terlebih dahulu atau pengertian konsep mengenai ilmu pengetahuan yang akan dipelajari.
Pada waktu yang lampau orang yang masih awam dalam ilmu antropologi mempunyai pandangan yang keliru mengenai isi dan materi yang dipelajari dalam studi antroplogi. Anggapan itu tidak salah karena sejarah perkembangan ilmu antropologi dibagi beberapa tahap. Tahap pertama, antropologi muncul ketika orang pribumi di Asia, Afrika dan Amerika didatangi oleh orang Eropa. Orang Eropa tertarik kepada orang pribumi karena kebudayaan orang Eropa sangat berbeda dengan kebudayaan orang pribumi. Tahap kedua, antropopologi telah berkembang dengan tujuan utama untuk mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitif dengan maksud untuk mendapat suatu pengertian tentang tingkat-tingkat kuno dalam sejarah dan evolusi dan sejarah penyebaran kebudayaan manusia. Tahap ketiga, pada fase perkembangan ketiga ini, antroplogi menjadi suatu ilmu yang praktis, dengan tujuannya adalah mempelajari masyarakat dan kebudayaan suku-suku bangsa di luar Eropa guna kepentingan kolonial dan guna mendapat suatu pengertian tentang masyarakat masa kini yang kompleks. Tahap keempat, antropologi mengalami masa perkembangan yang paling luas, baik mengenai bertambahnya bahan pengetahuan yang jauh lebih teliti maupun mengenai ketajaman dari metode-metode ilmiahnya. Pada masa perkembangan ini, antropologi mempunyai dua tujuan, yaitu tujuan akademis dan tujuan praktis. Tujuan akademis dari ilmu ini adalah mencapai pengertian tentang makhluk manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna bentuk fisiknya, masyarakat serta kebudayaan, sedang tujuan praktis dari ilmu antropologi adalah mempelajari manusia dalam aneka warna masyarakat suku bangsa guna membangun masyarakat suku bangsa itu.
Dari tahap-tahap perkembangan ilmu antropologi tampak bahwa sebagaimana halnya dengan ilmu-ilmu pengetahuan yang lain ilmu pengetahuan antroplogi pun terus mengalami perkembangan. Pada tahap awal sejarah perkembangannya, antropologi hanya bersifat deskripsi; kemudian dalam perkembangannya bahasan/ulasan antropologi disertai penjelasan atas dasar analisis dari interaksi antara manusia dengan kebudayaannya. Di samping itu, antropologi mempunyai perhatian utama adanya perbedaan dan persamaan (keanekawarnaan) berbagai manusia (ras) dan budaya di muka bumi. 

B.2. Ruang lingkup dan Ilmu Penunjang Antropologi
Ruang lingkup pelajaran antropologi meliputi semua manusia dan gejala kebudayaan, termasuk proses yang mengakibatkan timbulnya fenomena dan berbagai bentuk persamaan dan perbedaan (keanekawarnaan). Berhubung lingkup pelajaran antropologi meliputi fenomena biologis (manusia) dan sosial, maka ilmu-ilmu penunjang antropologi meliputi ilmu-ilmu pengetahuan alam dan kelompok ilmu pengetahuan sosial. Koentjaraningrat (1990: 31) mencantumkan 13 ilmu pengetahuan yang pokok, terdiri dari 5 ilmu pengetahuan alam, 1 ilmu pengetahuan gabungan (sintesa), 7 ilmu sosial. Ketigabelas ilmu penunjang antropologi adalah ilmu geologi, paleontologi, anatomi, kesehatan masyarakat, psikiatri (kesemuanya ilmu pengetahuan alam), geografi (ilmu sintesa), arkeologi, sejarah, ekonomi, hukum adat, administrasi, dan ilmu politik (kesemuanya ilmu pengetahuan sosial). 

B. 3. Objek Studi dan Pengamatan Antropologi
Objek studi antropologi dapat dipilah menjadi dua, yaitu objek material dan objek formal. Objek material adalah sasaran yang menjadi perhatian dalam penyelidikan. Mengingat lingkup pelajaran antropologi manusia dan budaya, maka sasaran penyelidikan sebagai objek material sangat luas. Sasaran penyelidikan yang banyak tersebut pada umumnya juga menjadi sasaran penyelidikan ilmu pengetahuan sosial lainnya; maka objek formallah yang membedakan ciri ilmu pengetahuan antropologi dengan yang lain. Yang dimaksud objek formal adalah cara pendekatan dalam penyelidikan terhadap objek yang sedang menjadi pusat perhatiannya.
Ada tiga cara pendekatan dalam ilmu antropologi, yaitu pertama, pengumpulan fakta. Dalam pengumpulan fakta di sini terdiri dari berbagai metode observasi, mencatat, mengolah dan melukiskan fakta-fakta yang terjadi dalam masyarakat hidup. Sedangkan metode-metode pengumpulan fakta dalam ilmu ini adalah penelitian di lapangan (utama), dan penelitian perpustakaan. Kedua, penentuan ciri-ciri umum dan sistem. Hal ini adalah tingkat dalam cara berpikir ilmiah yang bertujuan untuk menentukan ciri-ciri umum dan sistem dalam himpunan fakta yang dikumpulkan dalam suatu penelitian. Adapun ilmu antropologi yang bekerja dengan bahan berupa fakta-fakta yang berasal dari sebanyak mungkin macam masyarakat dan kebudayaan dari seluruh dunia, dalam hal mencari ciri-ciri umum di antara aneka warna fakta masyarakat itu harus mempergunakan berbagai metode membandingkan atau metode komparatif. Adapun metode komparatif itu biasanya dimulai dengan metode klasifikasi. Ketiga, verifikasi. Dalam kaitan ini, ilmu antropologi menggunakan metode verifikasi yang bersifat kualitatif. Dengan mempergunakan metode kualitatif, ilmu ini mencoba memperkuat pengertiannya dengan menerapkan pengertian itu dalam kenyataan beberapa masyarakat yang hidup, tetapi dengan cara mengkhusus dan mendalam.

B. 4. Beberapa Pengertian Penting dalam Antropologi
B.4. a. Holististik
Sebuah pendekatan dalam antropologi yang melihat keadaan-keadaan dan individu-individu secara utuh. Jadi, pokok kajiannya, baik sebuah organisasi atau individu, tidak akan diredusir (disederhanakan) kepada variabel yang telah ditata atau sebuah hipotesa yang telah direncanakan sebelumnya, tetapi akan dilihat sebagai bagian dari suatu yang utuh.

B.4.b. Kualitatif
Menurut Bogdan dan Tylor (1993: 30), metode kualitatif menunjuk kepada prosedur-prosedur riset yang menghasilkan data kualitatif, yaitu ungkapan atau catatan orang itu sendiri atau tingkah laku mereka yang terobservasi. Pendekatan-pendekatan ini mengarah kepada keadaan-keadaan dan individu-individu secara holistik (utuh). Jadi, pokok kajiannya, baik sebuah organisasi atau individu, tidak akan diredusir (disederhanakan) kepada variabel yang telah ditata atau sebuah hipotesa yang telah direncanakan sebelumnya, akan tetapi akan dilihat sebagai bagian dari suatu yang utuh.
Metode kualitatif memungkinkan kita memahami masyarakat secara personal dan memandang mereka sebagaimana mereka sendiri mengungkapkan pandangan dunianya. Kita menangkap pengalaman-pengalaman mereka dalam perjuangan mereka seharihari di dalam masyarakat mereka. Kita mengkaji tentang kelompok dan pengalaman-pengalaman yang sama sekali belum kita ketahui. Akhirnya, metode kualitatif memungkinkan kita membuat dan menyusun konsep-konsep yang hakiki, dan ini tidak ditemukan dalam metode lainnya (metode kuantitatif). Konsep-konsep seperti indah, menderita, keyakinan, frustasi, harapan, cinta dapat dikaji karena memang ada definisinya dan juga dialami oleh masyarakat secara real dalam kehidupan mereka.

B.4.c. Studi Kasus
Dalam penelitian antropologis, kita sering menjumpai kata-kata studi kasus. Menurut Black dan Champion (1976) studi kasus merupakan penelitian terhadap kesatuan sosial yang dipilih sebagai bahan kajian terhadap kesatuan yang lebih luas, tetapi hubungan antara kesatuan itu tidak dapat diperkirakan secara pasti. Artinya, bahwa hasil penelitian ini belum dapat dijadikan patokan untuk menarik kesimpulan umum (yang lebih luas) (Wibowo, 1994: 28-29).
Sebagai suatu penelitian sosial, kesimpulan yang dihasilkan dari penelitian tadi tentu saja terbatas pada kesatuan yang diteliti. Pada lingkup yang lebih luas, kesimpulan yang dihasilkannya hanya berlaku sebagai proposisi hipotesis. Meskipun demikian, hasil yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan memiliki arti penting dan berguna dalam tujuan studi. Menurut Marzali (1980) studi kasus bukanlah suatu teknik penelitian, tetapi suatu pendekatan, suatu cara agar dapat diperoleh suatu sifat yang utuh (unitary character) dari objek yang dikaji.

B. 4.d. Observasi Partisipasi
Ungkapan Observasi partisipasi tidak memperoleh batasan yang jelas dalam ilmu sosial. Di sini, observasi partisipasi dipakai untuk menunjuk kepada penelitian yang dicirikan adanya interaksi sosial yang intensif antara sang peneliti dengan masyarakat yang diteliti di dalam sebuah miliu masyarakat yang diteliti. Selama periode tadi, data yang diperoleh dikumpulkan secara sistematis dan hati-hati.
Sang peneliti menceburkan diri dalam kehidupan masyarakat dan situasi di mana mereka mengadakan penelitian. Para peneliti berbicara dengan bahasa mereka, bergurau, menyatu dan sama-sama terlibat dalam pengalaman yang sama. Hubungan yang demikian lama memungkinkan para peneliti untuk melihat adanya dinamika-dinamika dalam bentuk konflik dan perubahan sehingga memandang definisi-definsi tentang organisasi-organisasi, hubungan-hubungan, kelompok dan invidu ada dalam sebuah proses. Mereka memperoleh hal-hal yang menguntungkan secara khas jika dibanding dengan para pemakai metodologi lainnya.

C. KONSEP KEBUDAYAAN
C.1. Batasan Kebudayaan
Imu antropologi yang mempunyai perhatian terhadap cara hidup manusia dengan berbagai macam sistem tindakan, maka dalam memberi batasan tentang konsep kebudayaan1 atau culture, ilmu ini amat berbeda dengan ilmu yang lain. Juga apabila dibandingkan dengan arti yang biasanya diebrikan kepada konsep itu dalam sehari-hari, yaitu arti yang terbatas kepada hal-hal yang indah seperti candi, tari-tarian, seni rupa, seni suara, kesusastraan dan filsafat, definisi ilmu antrologi jauh lbih luas sifat dan ruang lingkupnya. Menurut ilmu antropologi, kebudayaan adalah keseluruhan gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar (Koetjaraningrat, 1990: 180).
Kenyataannya, definisi yang menganggap bahwa “kebudayaan” dan “tindakan kebudayaan” itu adalah gejala yang harus dibiasakan oleh manusia dengan belajar (learned behavior), juga diajukan oleh beberapa ahli antropologi terkenal seperti C. Wissler, C. Kluckhon, A. Davis, atau Hoebel.

C.2. Unsur-unsur Kebudayaan
Para sarjana antropologi yang biasa menanggapi suatu kebudayaan sebagai suatu keseluruhan yang terintegrasi, pada waktu analisa akan membagi keseluruhan itu kedalam unsur-unsur besar yang disebut unsur-unsur kebudayaan universal atau cultural universal. 2 Jadi, dapat dikatakan bahwa setiap kebudayaan dari suatu bangsa atau masyarakat terbagi lagi menjadi sejumlah unsur, baik unsur besar maupun unsur kecil yang merupakan bagian dari suatu kebulatan yang bersifat kesatuan. Sejumlah unsur tadi yang disebut sebagai unsur-unsur pokok kebudayaan, atau dapat disebut kebudayaan semesta. Apa yang dimaksud dengan kebudayaan universal adalah bahwa unsur-unsur kebudayaan itu dapat dijumpai pada setiap kebudayaan dimanapun juga. Ada tujuh unsur yang dapat ditemukan pada semua bangsa di dunia. Ketujuh unsur yang dapat kita sebut sebagai isi pokok dari tiap-tiap kebudayaan di dunia itu adalah:
1. Bahasa
2. Sistem pengetahuan
3. Organisasi sosial
4. Sistem peralatan hidup dan teknologi
5. Sistem mata pencaharian hidup
6. Sistem Religi
7. Kesenian

Bagan Pemerincian Kebudayaan



Tiap-tiap unsur kebudayaan universal sudah tentu saja juga menjelma dalam tiga wujud kebudayaan terurai, yaitu wujudnya yang berupa sistem budaya, yang berupa sistem sosial dan yang berupa unsur-unsur kebudayaan fisik. Dengan demikian, sistem ekonomi misalnya, mempunyai wujud sebagai konsep-konsep, rencana-rencana, kebijaksanaan, adat-istiadat yang berhubungan dengan ekonomi, tetapi mempunyai juga wujudnya yang berupa tindakan-tindakan dan interaksi berpola antara produsen, tengkulak, pedagang, ahli transport. pengecer dengan konsumen, serta kecuali itu dalam sistem ekonomi terdapat juga unsur-unsurnya yang berupa peralatan, komoditi, dan benda-benda ekonomi.
Jadi, unsur-unsur pokok kebudayaan itu meliputi wacana yang luas sehingga untuk keperluan analisis perlu ada sistematika yang berbentuk hirarki.

C. 3. Sistem Kebudayaan
Dari bagian di atas telah disebutkan bahwa unsur-unsur kebudayaan itu mempunyai wacana yang luas dan ada sistematika yang berbentuk hirarki. Hal inilah yang akhirnya membentuk sebuah sistem kebudayaan. Dalam Ilmu antropologi, tiap unsur kebudayaan universal dapat diperinsi ke dalam unsur-unsurnya yang lebih kecil sampau beberapa kali. Dengan mengikuti metode pemerincian dari seorang ahli antropologi R. Linton (Koentjaraningrat, 1990: 205), maka pemerincian itu kita lakukan sampai empat kali.3 Karena serupa dengan kebudayaan dalam keseluruhan (kesatuan), tiap unsur kebudayaan universal itu mempunyai tiga wujud, yaitu wujud sistem budaya, wujud sistem sosial, dan wujud kebudayaan fisik, maka pemerincian dari tujuh unsur tadi masing-masing harus juga dilakukan mengenai ketiga wujud tadi.
Wujud sistem budaya dari suatu unsur kebudayaan universal berupa adat, dan pada tahap pertamanya adat dapat diperinci lagi ke dalam beberapa kompleks budaya4 , tiap kompleks sosial, dan pada tahap kedua, tiap kompleks sosial dapat diperinci lebih khusus ke dalam berbagai pola sosial. Pada tahap keempat, tiap pola sosialdapat diperinci lebih khusus ke dalam berbagai tindakan.
Ketujuh unsur kebudayaan universal itu masing-masing tentu saja mempunyai wujud fisik, walaupun tidak ada satu wujud fisik untuk keseluruhan dari satu unsur kebudayaan universal. Itulah sebabnya kebudayaan fisik tidak perlu diperinci menurut keempat tahap pemerincian seperti dilakukan pada sistem budaya dan sistem sosial. Namunsemua unsur kebudayaan fisik sudah tentu secara khusus terdiri dari benda-benda kebudayaan (lebih jelasnya lihat bagan di bawah ini).

Bagan Pemerincian Unsur-unsur Kebudayaan Universal

Misalnya, unsur kebudayaan universal sistem mata pencaharian hidup dapat diperinci ke dalam beberapa sub-unsur seperti perburuan, perladamgan, pertanian, peternakan, perdagangan, perkebunan, industri, kerajinan, industri jasa, industri pertambangan dan industri manufaktur. Tiap bagian tadi mempunyai wujudnya sebagai sistem budaya yang akan kita sebut adatnya, wujud sebagai sistem sosialnya yang akan kita sebut aktivitas sosialnya; dan wujud fisiknya yang berupa berbagai peralatan yang tentunya merupakan benda-benda kebudayaan. Hal serupa dapat dilakukan terhadap unsur-unsur kebudayaan universal lainnya.

C. 4. Perubahan Kebudayaan 
Pada dasarnya perubahan kebudayaan atau culture change selalu dapat terjadi, meskipun masa perubahan itu memakan waktu beribu tahun lamanya. Sumber penyebab perubahan dapat berasal dari dalam masyarakat itu sendiri dapat pula berasal dari luar masyaraakt yang bersangkutan. Apabila jangka waktu proses perubahan tersebut memakan waktu yang lama, maka proses perubahan itu diisebut evolusi atau evolusi kebudayaan. Adapun proses perubahan relatif cepat biasanya disebabkan ditemukannya atau dikenalkannya teknologi baru. Di samping itu, proses perubahan kebudayaan yang relatif cepat juga dapat disebabkan karena kontak dengan masyarakat luar. Terlebih dengan adanya teknologi informasi yang semakin canggih dapat diharapkan proses perubahan kebudayaan akan semakin cepat. Ada empat hal yang berpengaruh terhadap proses perubahan kebudayaan, yaitu discovery, invention, evolusi dan difui.

C.4.a Discovery
Suatu discovey adalah suatu penemuan dari suatu unsur kebudayaan baru, baik berupa suatu alat yang baru, ide baru, yang diciptakan oleh seorang individu atau suatu rangkaian dari beberapa individu dalam masyarakat yang bersangkutan. Discovery menjadi incention apabila masyarakat sudah mengakui, menerima, dan menerapkan penemuan baru itu. Proses perubahan ini sering kali memerlukan seorang individu, yaitu si penciptanya saja, melainkan suatu rangkaian yang terdiri dari beberapa orang pencipta. 

C. 4.b. Invention
Invention atau penemuan adalah suatu proses pembaruan dari penggunaan sumber alam, energi, dan modal, pengaturan baru dari tenaga kerja dan penggunaan teknologi baru yang semua akan menyebabkan adanya sistem produksi, dan dibuatnya produk-produk yang baru. Dengan demikian, inovasi itu mengenai pembaruan kebudayaan yang khusus mengenai unsur teknologi dan ekonomi.

C. 4. c. Evolusi 
Suatu evolusi dalam kebudayaan adalah proses perubahan setahap demi setahap yang relatif makan waktu dari barang yang pada awalnya diciptakan manusia (invention). Pada dasarnya evolusi tersebut dimaksudkan untuk menjadikan lebih baik, lebih canggih, dan lebih nyaman. Sepeda, mobil, pesawat terbang, rumah, bentuk dan kondisinya sangat jauh berbeda ketika pertama kali diciptakan. Perubahan itu tidak berlangsung cepat, melainkan tahap demi tahap. Bagaimana pun juga evolusi membawa dampak berupa perubahan-perubahan kebudayaan.

C. 4. d. Difusi
Bersamaan dengan penyebaran dan migrasi kelompok-kelompok manusia di muka bumi, turut pula tersebar unsur-unsur kebudayaan dan sejarah dari proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan ke seluruh penjuru dunia yang disebut dengan difusi atau dalam bahasa Inggrisnya disebut diffusion. Penyebaran unsur-unsur kebudayaan tadi dapat saja terjadi tanpa ada perpindahan kelompok-kelompok manusia atau bangsa-bangsa dari satu tempat ke tempat lainnya, tetapi karena ada individu-individu tertentu yang membawa unsur kebudayaan tersebut, seperti pedagang, saudagar, pelaut dan sebagainya. Selain itu, penyebaran ini dapat terjadi karena adanya pertemuan-pertemuan antara individu dalam suatu kelompok dengan individu kelompok tetangga.

E. Tema Penelitian Antropologi Kebudayaan
Untuk keperluan penelitian dalam studi antropologi budaya, tujuh unsur kebudayaan universal dapat dijadikan acuan untuk orientasi dalam memilih tema penelitian. Selanjutnya, untuk menentukan topik-topiknya dapat dimulai dari memilih salah satu unsur pokok sebagai tema penelitian, kemudian turun hingga culture traits bahkan dapat juga hingga ke item. Dalam ruang lingkup penelitian antropologi kebudayaansudah tentu harus mengikuti kaidah-kaidah antropologi.

Daftar Pustaka
Bogdan, Robert dan Steven J. Taylor
1993 Kualitatif, Dasar-dasar Penelitian. Surabaya: Usaha Nasional.
Koentjaraningrat
1990 Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Marzali
1980 “Metode Penelitian Kasus”, Berita Antropologi. 11 (37). 
Wibowo, Agus Budi
1994 “Perubahan Aspek-aspke Perkawinan Pada Masyarakat Pedesaan Studi
Kasus di Dusun Mojohuro, Desa Sriharjo, Kec. Imogiri Kab. Bantul 
DIY”, Tesis Pascasarjana UGM.

Faham dan aliran

Komunisme

            Komunisme, ideologi yang dianut oleh sepertiga penduduk dunia, yang kini dicap sebagai ideologi “berdarah” brutal, pembantai, pembunuh, pemerkosa, dan rajanya despotisme oleh para lawan politiknya, khususnya dari sekutu Barat, Amerika Serikat. Sebenarnya komunisme adalah ideologi yang “baik”  dalam artian, dilihat dari visi dan misnya, komunisme pada dasarnya ingin menciptakan tatanan dunia tanpa penindasan oleh kelas ekonomi borjuis yang terdiri dari orang-orang kaya, birokrat, dan pemilik modal terhadap kelas ekonomi proletar yang terdiri dari orang-orang miskin, seperti buruh, petani, dan kaum pekerja tak bermodal.            Lihat sejarah. Komunisme, lahir di Jerman, dicetuskan oleh seorang filsuf berdarah Yahudi, Karl Heinrich Marx pada abad ke 18,  Marx menulis sebuah buku berjudul Das Capital dan Manifesto Communist, dengan latar belakang penderitaan kaum pekerja yang harus bekerja 23 jam sehari untuk pemilik modal, dan system kerja ini masih ada dinegara kita, dalam perspektif  Marx, pengusaha tidak akan bisa mendapatkan uang tanpa buruh, tuan tanah tidak akan bisa mendapatkan panen tanpa petani, dsb. Jadi Marx menilai, pengusaha lebih membutuhkan buruh daripada buruh membutuhkan pengusaha.            Ayo kita gali sejarah komunis, komunis berasal dari kata “komunal” artinya “bersama”, kolektivitas, oleh karena itu komunisme tidak mengakui harta seseorang, karena itu akan menimbulkan monopoli, yang artinya semakin kaya seseorang semakin berkuasa, sementara yang miskin akan terus menerus tenggelam dalam kubangan, inilah sebenarnya cita-cita awal komunisme, memuliakan persamaan derajat, meninggikan keadilan, dan menjunjung tinggi hak asasi, Tentu kita tahu film “Zorro”-nya Antonio Banderas, salah satu adegan, adalah ketika terjadi Perang Sipil Amerika, Pihak Konfederasi mengutus seorang Gubernur bernama Armand, untuk memerintah Nagara Bagian California, lalu ia menyita tanah semua orang miskin, untuk membuat rel kereta api, sementara dia sendiri memiliki kebun anggur yang luas, namun Zorro mencegah hal itu, Lalu robin Hood tokoh pencuri legendaris ini, juga melakukan hal serupa dengan Zorro, ia mencuri harta milik bangsawan kerajaan lalu membagikannya pada orang miskin, Nah, seperti Zorro dan Robin Hood, para kamerad komunis ingin menciptakan kondisi demikian, tanah negara merupakan milik rakyat, harta negara pun merupakan milik rakyat, dan sepantasnya digunakan rakyat untuk kepentingan negara pula.            Lalu apa yang menyebabkan orang sehingga mendiskreditkan komunisme? Dalam perspektif orang melihat dari rekam jejak sejarah, negara komunis selalu dipimpin oleh para diktator tangan besi, macam Joseph Stalin, Mao Zedong, dll. Sebenarnya itu bukanlah sebuah tolak ukur yang objektif, lihat latar belakangnya, komunisme kebanyakan didukung oleh orang-orang yang kecewa, miskin, dsb, dan kemiskinan inilah melatar belakangi timbulnya kekerasan. Pertama, lihat  Joseph Stalin, semasa kecil berasal dari keluarga miskin, ayahnya hanya seorang tukang sol sepatu, dan kerap kali memukuli anak-anaknya dalam mendidik, inilah yang mungkin menjadi dasar psikologi seorang Stalin menjadi seorang yang kejam saat dewasa, tak berbeda dengan Stalin, Mao Zedong pun berasal dari keluarga petani miskin, Mao dan ayahnya pun tidak dekat, karena ayahnya acapkali kasar padanya. Masa kecil suram itulah yang akhirnya menjadikan seorang Stalin dan Mao seorang pembunuh, namun coba kita lihat para pemimpin komunis yang semasa kecilnya bahagia, mereka justru ingin membagi kebahagiaan itu, contoh Fidel Castro, Castro tidak memimpin Kuba dengan tangan berdarah, mungkin karena dari segi psikologi, ia bahagia, ia punya ayah seorang juragan tebu, ia dan ayahnya juga sering membantu petani dikebun tebunya, inilah yang menjadikan Castro, seorang komunis yang lembut dan sederhana. Namun Castro haya satu, diantara pemimpin komunis bertangan besi, mungkin itulah yang menyebabkan selama ini perspektif kita buruk terhadap komunisme, karena labih banyak yang diktator daripada yang lembut seperti Castro.            Seharusnya mulai sekarang, opini masyarakat terhadap komunisme harus diubah, bukan berarti harus mengikuti komunisme, tapi tidak perlu menganggap komunisme adalah setan yang harus diberantas. Ideologi setan yang sebenarnya adalah kapitalisme dan liberalisme, yang secara cover memang menjual kebebasan, namun jika semua orang ingin bebas apa yang terjadi? Setiap orang akan berusaha semaksimal mungkin untuk meraih kebebasannya tanpa memikirkan hak orang lain, dan justru lebih rentan menimbulkan konflik horizontal, satu kata yang pernah saya kutip dari sebuah film Mel Gibson, Braveheart. “Sejarah ditulis oleh para pemenggal pahlawan.”, jadi dalam memaknai sejarah kita juga perlu sumber lain, untuk bahan pertimbangan, untuk mencapai penilaian yang objektif. Sekian dari saya


Nazisme            Fasisme adalah gerakan radikal, ideologi nasionalis otoriter politik. Fasis berusaha untuk mengatur bangsa menurut perspektif korporatis, nilai, dan sistem, termasuk sistem politik dan ekonomi, Mereka menganjurkan pembentukan partai tunggal negara totaliter yang berusaha mobilisasi massa suatu bangsa dan terciptanya "manusia baru" yang ideal untuk membentuk suatu elit pemerintahan melalui indoktrinasi, pendidikan fisik, dan termasuk eugenika kebijakan keluarga. Fasis percaya bahwa bangsa memerlukan kepemimpinan yang kuat, identitas kolektif tunggal, dan kemampuan untuk melakukan kekerasan dan berperang untuk menjaga bangsa yang kuat. pemerintah Fasis melarang dan menekan oposisi terhadap negara.
            Nazi, atau secara resmi Nasional Sosialisme (Jerman: Nationalsozialismus), merujuk pada sebuah ideologi totalitarian Partai Nazi (Partai Pekerja Nasional-Sosialis Jerman, Jerman: Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei atau NSDAP) di bawah kepemimpinan Adolf Hitler. Kata ini juga merujuk pada kebijakan yang dianut oleh pemerintahan Jerman pada tahun 1933—1945, sebuah periode yang kemudian dikenal sebagai Jerman Nazi atau Reich Ketiga. Kata Nazi jadi merupakan singkatan Nasional Sosialisme atau Nationalsozialismus di bahasa Jerman. Sampai hari ini orang-orang yang berhaluan ekstrem kanan dan rasisme sering disebut sebagai Neonazi (neo = "baru" dalam bahasa Yunani). Nazisme bukanlah sebuah ideologi baru, melainkan sebuah kombinasi dari berbagai ideologi dan kelompok yang memiliki kesamaan .

Fasisme            Fasisme adalah sebuah gerakan politik penindasan, nama fasisme berasal dari kata latin ‘fasces’artinya kumpulan tangkai yang diikatkan kepada sebuah kapak, yang melambangkan pemerintahan di romawi kuno. Fasisme merupakan produk ideologi-ideologi yang ingin melawan kaidah-kaidah moralitas yang diturunkan kepada umat manusia melalui agama, dan, menggantikannya dengan budaya pagan yang rasis, hausdarah dan kejam, Fasisme sesungguhnya merupakan ideologi yang di bangun menurut hukum rimba, fasisme juga bertujuan membuat individu dan masyarakat berfikir dan bertindak seragam, untuk mencapai tujuan ini fasisme menggunakan kekuatan dan kekerasan bersama semua metode propaganda bahkan melakukan genocide (pemusnahan secara teratur terhadap suatu golongan atau bangsa). Ideologi Fasisme merupakan sebuah paham politik yang menjunjung kekuasaan absolut tanpa demokrasi. Ada pula yang mengartikan bahwa ideologi Fasisme adalah suatu paham yang mengedepankan bangsa, sendiri dan memandang rendah bangsa lain, Pondasi fasisme dibangun oleh sejumlah pemikir Eropa berdasarkan budaya pagan tersebut pada abad ke-19, dan dipraktikkan pada abad ke-20 oleh negara-negara seperti Italia dan Jerman, Menurut Darmodiharjo (Afandi,2012:88) Fasisme, yang berkembang di Jerman menjadi Nazziesme, memiliki beberapa ciri,antara lain :
            Rasialisme, pengikut ideologi ini tidak bisa bebas berpikir terhadap ideologinya sendiri, Semua orang harus tunduk pada pikiran yang telah dicontohkan  oleh ideologi. Dogma yang telah digambarkan oleh pelaksana ideologi harus diikuti dengan patuh tanpa adanya kritik.            Dictator, ajaran ini menganggap bahwa sekecil apapun kritik, itu adalah suatu kejahatan. Atau bentuk perlawanan terhadap ajaran dan kekuasaan pemerintah dan dimusnahkannya dengan cara kekerasan.            Imperialisme, adalah politik untuk menguasai (dengan paksaan) seluruh dunia, untuk kepentingan diri sendiri yang dibentuk sebagai imperiumnya (hak memerintah).atas dasar tersebut, mereka melakukan penguasaan atas bangsa, lain, Akibatnya imperialisme adalah suatu akibat logis dari paham yang realistis itu.
Negara yang menganut ideologi fasisme memiliki beberapa keunggulan dan kelemahanKeunggulan Ideologi Fasisme yang pertama memiliki rasa kesatuan nasional yang kedua memiliki tingkat pengawasan dan kedisiplinan yang tinggi, ketiga dapat mengambil keputusan pemerintahan yang cepat keempat pemerintahan dipegang oleh orang yang ahli.
kelemahan dari ideologi fasisme, pertama rakyat berhadapan dengan tekanan dan kekerasan, kedua Rakyat diperintah dengan cara-cara yang mmebuat mereka takut dan dengan demikian membuat mereka patuh, ketiga Kekuasaan Negara hanya dipegang oleh partai yang berkuasa, dan yang terakhir sistem pemerintahan otoriter.
Tokoh-tokoh ideologi fasisme:Kalo menurut plato (Farhini,2012) menganggap manusia sebagai suatu spesies hewan, dan menganjurkan agar mereka “dikembangkan” melalui “perkawinan paksa”, kalo kata charles Darwin (Farhini,2012)
Meng-klaim bahwa makhluk hidup berevolusi dari makhluk hidup lainnya sebagai hasil dari peristiwa kebetulan, merupakan produk filsafat pagan. Unsur penting kedua dari teori Darwinisme, “perjuangan untuk bertahan hidup”, juga merupakan kepercayaan pagan. Para filsuf Yunani-lah yang pertama kali mengemukakan adanya peperangan di antara makhluk hidup untuk bertahan hidup di alam.