Jumat, 26 Juni 2015

Mati karena cinta

Mencintai seseorang yang kita dambakan, itu adalah hal terindah dalam hidup, bahkan menjadikan kita lebih semangat, kaya dapet modboaster atau apalah istilahnya? ada yang bisa nulisnya g kalo ada kasih tau gua ya.

kembali ke tema, menyayangi seorang wanita, yang manis,cantik,anggun berceria itu adalah idaman semua orang kecuali yang beda slera hehe, selera pasangan berbeda-beda cara pendekatanyapun tidak akn sama, bhkan tak terhingga cara untuk sampai ke titik itu.

cuma gak semua cara pas untuk di pake, kaya kita pake spatu lah gak semua cocok buat kita pakai, sesuaikan cara itu dengan pikiranmu dan cara km melekukanya, gua yakin kalo optimis loe bisa dapetin apa yang loe mau tapi kalo loe, gabisa sampe ke titit eh sory titik sukses.

yang elo harapkan jangan kecewa dulu tapi, coba analisa apa penyebabnya mungkin ada cara yang salah atau sesajen yang kurang pas, sesajen tuh maksudnya bumbu, bukan bumbu mkasak tapi unsur cint, atau syarat tertentu, mau tau g syaratnya tapi ini versi gua sih, mau g ok kalo mau gua akan bahas tentang, kesehatan.

 kesehatan itu, disebabkan beberapa faktor misalkan dari makanan lingkungn dll. sisanya mikir sendiri, tapi orang yang sakit itu salahsatunya disebabkan oleh putus cinta, udah putus frustasi dan bunuh diri maka dari itu hindarilah jalan yang berlubang.

Selasa, 23 Juni 2015

Kenapa Manusia harus taat terhadap hukum analisa pramuka garut

MENGAPA MANUSIA TAAT TERHADAP HUKUM
            Hukum adalah ilmu untuk manusia, seperti halnya sosial, karena merupakan bagian yang penting dalam kehidupan manusia, berbangsa ber
negara, dan bermasyarakat serta berbudaya,  Tidak ada kejadian tidak dikenal dari keadaan atau pengalaman manusia, di mana ada  masyarakat disitu ada budaya yang lahir tanpa kita sadari, disitu lahirlah kesepakatan bersama sehingga menjadi ketetapan bagi semua pelaksana atau masa yang ada dan menyepakati untuk menjalani (hukum). Dimana ada masyarakat berbudaya disitu ada hukum yang terbentuk, menjadi bagian dari budaya.
            Hukum dan budaya menjadi satu kesatuan dalam masyarakat, hukum adalah fenomena, riskan terhadap objek intelektual dengan bantuan dari indra manusia, dan tunduk pada penyelidikan empiris secara ilmiah serta dapat dideskripsi. Hukum merupakan salah satu bentuk budaya untuk mengendalikan regulasi perilaku manusia, baik individual atau kolektif dalam system  penerapannya. Hukum adalah alat utama dari kontrol sosial pada masyarakat modern ataupun  masyarakat primitif.
            Penerapan manusia atau masyarakat sadar dengan hukum yang taat akan hukum merupakan cita-cita munculnya norma-norma dalam masyarakat berkeadilan, sehingga pondasi dari budaya masyarakat akan berkembang menuju terciptanya suatu sistem masyarakat yang menghargai satu sama lain atau saling toleransi, menjadikan masyarakat sadar akan hukum dan taat hukum, bukanlah sesuatu yang mudah seperti meminum air, banyak hal yang harus diusahakan oleh pendiri atau pemikir negeri, untuk memikirkan hal tersebut. Hukum bukanlah satu-satunya yang berfungsi untuk menjadikan masyrakat sadar hukum dan taat hukum, Indonesia yang mayoritas adalah negara yang sangat erattampaknya dalam membentuk formulasi hukum positif agak berbeda dengan negara-negara yang kulturnya homogen, sangatlah penting sebelum membentuk suatu aturan atau biasa disebut hukum yang akan mengatur perjalanan masyarakat, haruslah digali tentang filsafat hukum secara lebih komprehensif yang akan mewujudkan keadilan yang nyata bagi seluruh golongan, suku, ras, agama yang ada di Indonesia.
            Peranan hukum didalam masyarakat sebagimana tujuan hukum itu sendiri adalah menjamin kepastian dan keadilan, dalam kehidupan masyarakat senantiasa terdapat perbedaan antara pola perilaku yang berlaku dalam masyarakat dengan pola-pola perilaku yang dikehendaki oleh norma-norma (kaidah) hukum. Hal ini dapat menyebabkan timbulnya suatu masalah berupa kesenjangan sosial sehingga pada waktu tertentu cenderung terjadi konflik dan ketegangan-ketegangan sosial yang tentunya dapat mengganggu jalannya perubahan masyarakat sebagaimana arah yang dikehendaki.
            Keadaan demikian terjadi oleh karena adanya hukum yang diciptakan diharapkan dapat dijadikan pedoman (standard) dalam bertindak bagi masyarakat tidak ada kesadaran hukum sehingga cenderung tidak ada ketaatan hukum
            Manusia taat terhadap hukum tidaklah menjadi suatu hal yang aneh, karena manusia  manusia di anugrahi akal dan fikiran sehingga apa yang mereka lakukan akan menjadi suatu ketetapan, yang dirasa nyaman, manusia akan taat hukum karena merasakan apa yang ditaati atau yang ia lakukan itu memberi manfaat dan rasa aman untuk dirinya dan orang lain, sehingga wajar kalo manusia taat terhadap hukum, tetapi hukum bisa ditaati manusia apabila memenuhi standard hukum yang telah ditetapkan, seperti member manfaat memiliki kepastian hukum, berwibawa mengikat dan bersifat memaksa sehingga hukum itu akan ditaati oleh manusia, tetapi penegakan hukum di Indonesia masih terlihat kurang dari segi cara pandang dan hukuman yang dijatuhkan kepada para pelaku kejahatan atau pelanggar aturan,
Dr. Wirjono Prodjodikoro. S.H
            Dalam bukunya “Perbuatan Melanggar Hukum”. Mengemukakan bahwa tujuan Hukum adalah mengadakan keselamatan, kebahagiaan dan tata tertib dalam masyarakat, beliau  mengatakan bahwa masing-masing anggota masyarakat mempunyai kepentingan yang beraneka ragam, Wujud dan jumlah kepentingannya tergantung pada wujud dan sifat kemanusiaan yang ada di dalam tubuh para anggota masyarakat masing-masing seperti hawa nafsu masing-masing menimbulkan keinginan untuk mendapatkan kepuasan dalam hidupnya sehari-hari dan supaya segala kepentingannya terpelihara dengan baik.
            Supaya terpenuhi keinginan-keinginan tersebut, maka timbul berbagai usaha untuk sampai kearah tersebut, yang mengakibatkan timbulnya bentrokan antara barbagai macam kepentingan anggota masyarakat,  Akibat bentrokan tersebut masyarakat menjadi guncang dan phenomena ini tidak bisa dibiarkan, ini harus dihindari, Menghindarkan keguncangan dalam masyarakat inilah sebetulnya maksud daripada tujuan hukum, maka hukum menciptakan  hubungan tertentu dalam hubungan masyarakat.
Prof. Subekti, S.H.
            Menurut Prof. Subekti SH keadilan berasal dari Tuhan YME dan setiap orang diberi kemampuan, kecakapan untuk meraba dan merasakan keadilan itu. Dan segala apa yang di dunia ini sudah semestinya menimbulkan dasar-dasar keadilan pada manusia.
            Dengan demikian, hukum tidak hanya mencarikan keseimbangan antara berbagai kepentingan yang bertentangan satu sama lain, akan tetapi juga untuk mendapatkan keseimbangan antara tuntutan keadilan tersebut dengan Ketertiban atau Kepastian Hukum.
Prof. Mr. Dr. L.J. Apeldoorn.
            Dalam bukunya “Inleiding tot de studie van het Nederlanse Recht”, Apeldoorn menyatakan bahwa tujuan Hukum adalah mengatur tata tertib dalam masyarakat secara damai dan adil. Untuk mencapai kedamaian Hukum harus diciptakan masyarakat yang adil dengan mengadakan perimbanagn antara kepentingan yang saling bertentangan satu sama lain dan setiap orang harus memperoleh (sedapat mungkin) apa yang menjadi haknya. Pendapat Van Apeldoorn ini dapat dikatakan jalan tengah antara 2 teori tujuan hukum, Teori Etis dan Utilitis.
Aristoteles.
            Dalam Bukunya “Rhetorica” mencetuskan teorinya bahwa tujuan hukum menghendaki keadilan semata-mata dan isi daripada hukum ditentukan oleh kesadaran etis mengenai apa yang dikatakan adil dan apa yang dikatakan tidak adil.
            Menurut teori ini buku mempunyai tugas suci dan luhur, ialah keadilan dengan memberikan tiap-tiap orang apa yang berhak dia terima yang memerlukan peraturan sendiri bagi tiap-tap kasus. Apabila ini dilaksanakan maka tidak akan ada habisnya. Oleh karenanya Hukum harus membuat apa yang dinamakan “Algemeene Regels”(Peratuaturan atau ketentuan-ketentyuan umum. Peraturan ini diperlukan oleh masyarakat teratur demi kepentingan kepastian Hukum, meskipun pad asewktu-waktu dadapat menimbulkan ketidak adilan.
Jeremy Bentham.
            Dalam Bukunya “Introduction to the morals and negismation”, ia mengatakan bahwa hukum bertujuan semata-mata apa yang berfaedah pada orang. Pendapat ini dititikberatkan pada hal-hal yang berfaedah pada orang banyak dan bersifat umum tanpa memperhatikan soal keadilan. Disini kepastian melalui hukum bagi perorangan merupakan tujuan utama dari Hukum.
Mr. J.H.P. Bellefroid.
            Bellefroid menggabungkan 2 pandangan ekstrim tersebut. Ia menggabungkan dalam bukunya “Inleiding tot de Rechts wetenshap in Nederland” bahwa isi hukum harus ditentukan menurut 2 asas, ialah asas keadilan dan faedah.
Rusli Effendy (1991:79).
            Mengemukakan bahwa tujuan hukum dapat dapat dikaji melalui tiga sudut pandang, yaitu Dari sudut pandang ilmu hukum normatif, tujuan hukum dititik beratkan pada segi kepastian hukum dari sudut pandang filsafat hukum, maka tujuan hukum dititikberatkan pada segi keadilan dari sudut pandang sosiologi hukum, maka tujuan hukum dititikberatkan pada segi kemanfaatan.
Van Kan.
            berpendapat bahwa hukum bertujuan menjaga kepentingan tiap-tiap manusia supaya kepentingan-kepentingan itu tidak dapat diganggu
 Aliran Yuridis Dogmatik
 Menurut aliran ini menganggap bahwa pada dasarnya tujuan hukum adalah semata-mata untuk menciptakan kepastian hukum, karena dengan adanya kepastian hukum, fungsi hukum dapat berjalan  sesuai dengan tujuan ketertiban, member rasa aman pada masyarakat.
             Penganut aliran yuridis dogmatik ini bahwa adanya jaminan hukum yang tertuang dari rumusan aturan perundang-undangan adalah sebuah kepastian hukum yang harus diwujudkan Kepastian hukumnya, syarat mutlak setiap aturan, persoalan keadilan dan kemanfaatan hukum bukan alasan pokok dari tujuan hukum tetapi yang penting adalah kepastian hukum.
             Bagi penganut aliran ini, janji hukum yang tertuang dalam rumusan aturan tadi merupakan kepastian yang harus diwujudkan, penganut aliran ini melupakan bahwa sebenarnya janji hukum itu bukan sesuatu yang harus, tetapi yang seharusnya.
             Dari ketiga aliran tujuan hukum di atas tidaklah bersifat baku, ini mengandung arti bahwa, masih ada pendapat-pendapat lain tentang tujuan hukum yang bisa ditandai dengan melihat latar belakang konteks sosial masyarakat yang selalu berubah.
            Dari uraian tersebu dapat disimpulkan bahwa kita sebagai masyarakat harus mengtahui bahwa hukum itu dibentuk atau diciptakan bertujuan untuk mencipatakan ketertiban sekaligus ketertiban dalam hidup bermasyarakat.
Aliran Utilistis
             Menurut aliran ini mengaggap bahwa pada asasnya tujuan hukum adalah semata-mata untuk menciptakan kemanfaatan atau kebahagiaan yang sebsar-besarnya bagi manusia dalam jumlah yang sebanyak-banyaknya, Jadi pada hakekatnya menurut aliran ini, tujuan hukum adalah manfaat dalam mengahasilkan kesenangan atau kebahagiaan yang terbesar bagi jumlah orang yang terbanyak.
             Aliran utilitis ini mempunyai pandangan bahwa tujuan hukum tidak lain adalah bagaiamana memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi warga masyarakat untuk menertibkan masyarakat secara kolektif dan keseluruhan sehingga manusia akan memiliki pegangan dalam aturan kehidupan pandangan
            Kaidah hukum  berlaku secara yuridis, apabila penentuannya didasarkan pada kaidah yang lebih tinggi tingkatannya atau apabila terbentuk menurut cara yang telah ditetapkan,  Kaidah hukum berlaku secara sosiologis, apabila kaidah tersebut dapat dipaksakan berlakunya oleh penguasa walaupun tidak diterima dan diakui oleh seluruh masyarakat, Kaidah hukum tersebut berlaku secara filosofis, artinya sesuai dengan cita-cita hukum sebagai nilai positif yang tertinggi Berkaitan dengan hal tersebut , menurut saya, ada beberapa alasan mengapa manusia mematuhi hukum:
            Manusia mematuhi hukum jelas karena hukum itu merupakan suatu kebutuhan, dimana ada masyarakat, disitu pasti ada hukum. Semua manusia butuh hukum untuk kelangsungan hidupnya, karena sejatinya setiap manusia pasti mendambakan kehidupan yang aman, nyaman, dan tentram, dan dengan adanya hukum itu sendiri, kehidupan yang aman itupun dapat terwujudkan. Contohnya, sebagai warga Negara Indonesia, kita wajib tau apa saja hak-hak dan kewajiban kita dalam kehidupan berbangsa danbernegara, maka dengan adanya UUD 1945 pasal 27 sampai pasal 33  kita dapat mengetahui hak-hak dan kewajiban kita sebagai warga Negara Indonesia.
            Manusia mematuhi hukum karena adanya sanksi alasan ini paling banyak dan paling ampuh untuk mendorong manusia mematuhi hukum.  Sanksi merupakan balasan atau ganjaran yang akan diterima bagi siapa saja yang melanggar hukum, dengan ketentuan  - ketentuan tertentu. Sanksi bersifat memaksa manusia adalah makhluk sosial manusia adalah makhluk sosial yang bersifat Zoon Politicn (Aristoteles) yang  nyata dalam kehidupan bersama  sebagai masyarakat itu tidak mudah. Hal itu disebabkan karena setiap manusia mempunyai kebutuhan dan kepentingan sendiri-sendiri yang seringkali bertentangan satu sama lainnya. Dari akibat perbedaan itu sering terjadi ketidakeimbangan atau keserasian dalam hubungan bermasyarakat, disinilah aturan tata kehidupan antarmanusia yang disebut Hukum itu dibutuhkan ditengah-tengah masyarakat, Jika kita ingin mengetahui alasana  mengapa seseorang taat terhadap hukum kita juga perlu tau tujuan dari hukum itu sendiri ada beberpa ahli yang menyatakan bahwa tujuan hukum itu dibuat atau untuk mencipatkan ketertiban dan keadilan, akan tetatpi berbagai persefsi itu muncul dari tujuan hukum ini sehingga terjadi perbedaan di dalamnya.
Sumber:
-         Bahan materi antropologi budaya
-         Pendapat para ahli
-         Pengantar ilmu hukum
-         Sosiologi hukum
-         Pendapat pribadi







TUGAS
Antropologi Budaya Tulisan Lepas
Dosen: Billy M. Khalilullah, S.H


PENYUSUN
Nama: Epul Saepul Rohman
Npm: 201429048


Kamis, 18 Juni 2015

Menyesal


Penyesalan memang kerap datang terlambat


Menyesal adalah bagian dari kehidupan kita sebagai manusia. Setiap manusia akan tiba di satu titik ketika dia menyadari ada yang tidak tercapai, atau ada satu hal yang seharusnya dilakukan sejak dulu tetapi tidak dilakukan. Pada akhirnya penyesalan akan terasa sangat pahit, dan banyak yang mengatakan, Andaikan waktu bisa diputar kembali


Namun sayang waktu tidak bisa diulang



Dari banyaknya penyesalan yang dialami manusia, inilah 5 penyesalan terbesar mereka. Bacalah dengan bijak, agar Anda memiliki gambaran akan penyesalan-penyesalan yang sering hadir dalam kehidupan sehari-hari. Semoga 5 hal ini tidak akan menjadi penyesalan yang membuat Anda ingin memutar kembali waktu.



Tidak Sempat Mengatakan Cinta



Setiap manusia berhak tahu kalo dia dicintai,terkadang rasa malu, gengsi dan ego membuat seseorang tidak mau mengungkapkan rasa cintanya. Rasa cinta ini tidak hanya antar dua insan manusia, tetapi juga rasa cinta dari anak ke orang tua, kakak ke adik, sahabat ke sahabat dan sebagainya. Percayalah, penyesalan rasanya sangat sakit ketika seseorang itu sudah pergi selamanya.



Maka selagi Anda masih diberi kesempatan untuk hidup, katakanlah pada orang yang Anda sayang betapa Anda menyayangi mereka, betapa kehadiran mereka begitu berarti untuk Anda. Jika kata-kata itu sulit terucap, tuliskan di sebuah kertas. Tidak sulit bukan memeluk dan mencium orang Anda sayang selagi Anda bisa. Sudahkah hari ini Anda mengatakan cinta pada ibu, ayah, suami dan anak-anak Anda?



Mengabaikan Kesehatan Sejak Muda



Hal yang memilukan dari manusia masa kini adalah keinginan untuk bekerja dan bekerja demi menghasilkan banyak uang tanpa menghiraukan kesehatannya. Makan sembarangan, stres sedikit langsung merokok, sering begadang dan sebagainya. Namun saat dia sudah punya banyak uang, kesehatan menjadi bumerang dan akhirnya uang yang sudah terkumpul dihabiskan untuk mendapatkan kembali kesehatan itu.



Maka mulai sekarang perhatikan apa yang Anda makan, dengan siapa Anda menghabiskan waktu dan apakah tidur Anda cukup setiap hari. Pikirkan masa tua Anda, hadir dalam pernikahan anak Anda dan bermain dengan cucu bisa menjadi motivasi untuk selalu sehat. Punya rumah atau perhiasan sebagai investasi memang tidak salah, namun harta terbesar Anda adalah kesehatan.



Bekerja Terlalu Keras Tapi..



Bekerja keras demi menghasilkan pundi-pundi uang memang tidak salah, impian membelikan rumah untuk orang tua atau memberangkatkan haji orang tua adalah hal yang mulia. Namun jangan sampai impian baik tersebut membuat lupa waktu dan justru mengabaikan orang tua. Kadang terlalu semangat bekerja membuat seseorang abai dan lupa pada orang-orang yang selalu mendukung dan mendoakan.



Tarik napas sejenak dan luangkan waktu untuk orang yang Anda sayangi. Kadang kehadiran Anda begitu dinanti-nanti melebihi berapapun banyak materi yang bisa Anda bagi. Kadang mendengar suara Anda menanyakan, "Bunda apa kabar?" lebih menenangkan hati ketimbang setumpuk materi. Maka mulailah seimbangkan hidup Anda. Hidup tidak hanya tentang berapa banyak materi yang Anda raih, tetapi dengan siapa Anda akan menikmatinya.



Meninggalkan Teman Yang Tulus



Dalam hidup ini, akan ada banyak orang yang datang dan pergi. Namun teman-teman yang tulus tidak akan pernah pergi dari hidup Anda. Merekalah orang-orang yang selalu ada di saat Anda senang dan susah. Sayangnya, banyak orang yang justru meninggalkan teman-teman yang tulus setelah datang teman-teman baru yang lebih selevel dan keren. Sedangkan teman lama dianggap tidak keren dan sudah tidak pantas untuk Anda.



Ingatlah kata-kata ini:



Ketika Anda dalam kondisi makmur dan kaya, teman-teman Anda tahu siapa Anda. Namun ketika Anda dalam kondisi miskin dan sengsara, Anda tahu siapa teman-teman Anda. 

Banyak cerita bahwa kehadiran orang baru seringkali hanya memanfaatkan ketenaran atau materi seseorang. Namun ketika tiba masa kesusahan datang, orang yang dianggap teman ini justru pergi. Justru teman-teman lama yang Anda tinggalkan, merekalah yang tetap kembali pada Anda, walau sempat Anda tinggalkan.Jadi sayangilah teman-teman yang memang tulus hadir dalam hidup Anda. Bukan teman yang sekedar 'selevel' dengan Anda.



Membangkang Pada Orang Tua



 Saat seseorang merasa sudah dewasa, seringkali nasihat dan omongan orang tua diabaikan. Kadang anak merasa "Aku kan sudah besar, suka-suka aku mau berbuat apa," padahal orang tua punya pengalaman yang lebih banyak. Walau memang, kadang orang tua ingin ini dan itu yang tidak sesuai dengan kata hati. Cara untuk menyikapi hal ini adalah duduk bersama, mengobrol. Sebab orang tua memang perlu belajar dan percaya bahwa keputusan anaknya bisa dipertanggung jawabkan. Dan dari sisi anak, bicara bersama lebih baik daripada membantah sambil berlalu.



Seringkali ada kejadian yang membuat anak tersandung keputusannya sehingga sangat menyesal dan kembali pada orang tuanya. Bahkan ada anak yang benar-benar merasakan penyesalan itu setelah orang tuanya sudah meninggal. Tak jarang penyesalan itu membuat luka dalam kehidupan. Maka selagi Anda masih bisa membicarakan banyak dengan baik bersama orang tua, duduklah bersama.



Oh dan satu lagi, mengutak-atik smartphone memang menyenangkan, namun pikirkan ini: berapa banyak waktu yang Anda buang smartphone dan media sosial hingga akhirnya mengabaikan orang tua?Semoga artikel ini bisa membuat Anda menyadari ada banyak hal yang bisa disyukuri saat ini. Penyesalan selalu datang terlambat, maka cegahlah selagi Anda bisa.